Category: Student’s Corner

  • Fadila Raih Juara 1 di Expo KKN Internasional 2025

    Lampung – Universitas Palangka Raya kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Fadila Umi Khodijah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, bersama kelompoknya meraih juara pertama kategori Best Food Product pada Expo KKN Internasional 2025 yang dilaksanakan di Universitas Lampung, Rabu (20/8/2025).

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional II Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Wilayah Barat 2025, yang menjadikan Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama Universitas Lampung (Unila) sebagai tuan rumah pelaksanaannya. KKN Internasional 2025 ini mengusung tema “Developing Educotourism Villages for Climate Change Mitigation” dan berlangsung selama dua bulan (online dan onsite).

    Dalam expo tersebut, kelompok Fadila memperkenalkan inovasi Avoctra Jam Formulasi Penyakit, yaitu olahan selai alpukat berbasis kesehatan. Produk ini terinspirasi dari ikon Desa Gunung Mas, Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur, yakni alpukat Siger Mas yang selama ini hanya dijual segar tanpa adanya produk turunan.

    “Avoctra Jam kami formulasikan berdasarkan top 5 penyakit yang ditemukan di Desa Gunung Mas, yakni hipertensi, diabetes, kesehatan mental, ibu hamil dan anak, serta kesehatan reproduksi. Harapannya, olahan alpukat ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga bermanfaat sebagai pangan fungsional untuk menunjang kesehatan masyarakat,” jelas Fadila.

    Tim KKN Internasional ini terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Malikussaleh Aceh, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Teknologi Sumatera, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, serta Universitas Singaperbangsa Karawang. Kolaborasi lintas kampus tersebut menjadi kekuatan utama dalam melahirkan beragam program inovatif. Secara keseluruhan, kegiatan KKN Internasional 2025 ini diikuti oleh 177 mahasiswa dari berbagai PTN wilayah barat Indonesia dan 36 mahasiswa asing yang berasal dari Yaman, Myanmar, Nigeria, Palestina, Malaysia, dan Thailand. Kehadiran mahasiswa asing memberi warna tersendiri, karena peserta dapat saling bertukar pengalaman sekaligus memperluas jejaring internasional.

    Selama pelaksanaan KKN, kelompok ini menjalankan 26 program lintas bidang yang meliputi:

    • Bidang Pertanian: modul pertanian alpukasi Siger Mas, avocado jam, ramalan cuaca pertanian.
      -Bidang Kesehatan: pelatihan kader posyandu dengan KKNI, upgrading posyandu, home visit bayi rutin, kelas ibu hamil, screening mata se-SD/MI Gunung Mas, dokter cilik di setiap SD, duta kesehatan SMA/MA, rebranding poskesdes, penyuluhan reproduksi SMP/MTs, majalah kesehatan, leaflet & poster kesehatan, edukasi lansia & hipertensi, hingga medical check-up ODGC rutinan.
    • Bidang Ekonomi: keuangan keluarga dan kejar mimpi.
    • Bidang Teknologi: pembuatan peta digital, video profil desa, dan Go Digital UMKM.
    • Bidang Pendidikan: kelas pelita, edukasi AI, pojok baca, motivasi kuliah SMA & SMP, serta inovasi es krim alpukat.

    Fadila mengungkapkan rasa senangnya atas pencapaian ini.
    “Saya sangat terharu dan bangga bisa membawa nama baik UPR. Pengalaman KKN Internasional ini memberi banyak wawasan baru, kesempatan practice English dengan teman dari Yaman, serta interaksi dengan mahasiswa berprestasi dari kampus lain. Momen paling berkesan adalah antusiasme masyarakat desa yang selalu hadir, banyak bertanya, dan mendukung setiap program kami. Bahkan, Sekretaris Desa Gunung Mas menyampaikan bahwa manfaat yang dirasakan masyarakat begitu banyak hingga sulit disebutkan satu per satu,” tuturnya.

    Rektor Itera, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, turut memberikan apresiasi. “Luar biasa sekali, jauh-jauh dari Palangka Raya bisa ikut berkontribusi di Lampung. Semoga sukses selalu,” ujarnya.

    Sementara itu, Rektor Universitas Palangka Raya, Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S. yang turut hadir di Expo, juga menyampaikan rasa bangga atas prestasi ini. “Semoga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nama baik universitas di tingkat nasional maupun internasional,” ungkapnya.

    Penulis: Ale
    Penyunting: Fadila
    Ilustrasi : Fadila

  • Mendorong Anak Muda Cinta Bahasa: Inilah Dia Sosok I Made Juniar Ardika

    Mendorong Anak Muda Cinta Bahasa: Inilah Dia Sosok I Made Juniar Ardika

    Palangka Raya – Di tengah semarak perhelatan Duta Bahasa Kalimantan Tengah tahun ini, salah satu nama mencuri perhatian: alumni PSPBI Universitas Palangka Raya yang berhasil menyandang gelar Terbaik I Duta Bahasa Kalteng 2025. Kemenangan ini bukan hanya soal pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi cerminan komitmen generasi muda terhadap pelestarian bahasa. Berikut kisah inspiratifnya.

    Dengan penuh rasa syukur, Made mengungkapkan perasaannya saat terpilih:

    “Sebuah kehormatan dan tanggung jawab besar. Saya senang bisa menjadi bagian dari keluarga besar Duta Bahasa Kalteng yang memberikan banyak pengalaman baru dan kenangan tak terlupakan.”

    Gelar ini membawa makna yang mendalam, bukan hanya sebagai prestasi individu, tetapi juga sebagai representasi perjuangan anak muda dalam menjaga warisan budaya bangsa, khususnya bahasa, ujarnya.

    Sebagai alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PSPBI) UPR, ia menganggap gelar ini sebagai kepercayaan bahwa pemuda adalah pilar pelestarian bahasa.

    “Ini adalah sebuah kehormatan yang selalu dimiliki oleh PSPBI dan akan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya,” sahutnya dengan penuh semangat.

    Gelar ini menegaskan bahwa alumni PSPBI mampu melanjutkan kontribusi aktif dalam dunia kebahasaan, menjadi teladan, dan membawa nama baik kampus dalam skala yang lebih luas.

    Menurutnya, mahasiswa dan civitas akademika perlu memberikan perhatian serius terhadap tiga pilar bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, dan Bahasa Asing.

    “Bahasa Indonesia harus kita utamakan, bahasa daerah harus kita lestarikan, dan bahasa Inggris harus kita kuasai,” tegasnya.

    Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan simbol persatuan. Mahasiswa yang memiliki mental global harus tetap berpijak pada nilai lokal. Pelestarian bahasa bisa dimulai dari langkah sederhana, diantaranya adalah berbahasa dengan baik dan benar.

    “Langkah kecil sebagai penutur yang bertanggung jawab bisa membawa dampak besar,” katanya.

    Ia menambahkan, memperkenalkan bahasa sebagai bagian dari keunikan budaya Indonesia akan memperkuat identitas nasional di tengah arus globalisasi.

    Sebagai Duta Bahasa, ia berkomitmen mendukung Tri Gatra Bangun Bahasa melalui:

    • Pengutamaan Bahasa Indonesia
    • Pelestarian Bahasa Daerah
    • Penguasaan Bahasa Asing

    Lebih dari itu, ia juga akan mendorong krida revitalisasi bahasa daerah di Kalimantan Tengah sebagai program prioritas.

    Menutup wawancara, ia menyampaikan pesan penting bagi seluruh mahasiswa:

    “Bahasa adalah kearifan lokal yang layak ditampilkan. Mari membahasakan bahasa kita. Dimulai dari diri sendiri, berdampak untuk banyak orang.”

    Semangat ini menjadi pengingat bahwa mahasiswa punya peran besar dalam menjaga keberagaman dan kekayaan bahasa Indonesia. Karena dengan bahasa, kita tak hanya berkomunikasi, tetapi juga merawat jati diri bangsa.

    Penulis : Prilola (2430102010 008)

  • Suara Prilola untuk Kampus Bebas Kekerasan

    Suara Prilola untuk Kampus Bebas Kekerasan

    Kampus adalah tempat untuk tumbuh, bukan tempat untuk takut.” Kalimat ini menggambarkan semangat perjuangan Prilola, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PSPBI) Universitas Palangka Raya, yang baru-baru ini dianugerahi gelar Duta Anti-Kekerasan Universitas Palangka Raya. Di tengah persaingan ketat dengan para kandidat lain yang sama-sama memiliki potensi luar biasa, Prilola tampil bersinar dengan visi dan komitmennya terhadap kampus yang aman dan inklusif bagi semua.

    Menjadi Duta: Peran, Dedikasi, dan Harapan

    Prilola mengaku tidak menyangka saat namanya diumumkan sebagai Duta Anti-Kekerasan. Namun di balik keterkejutannya, tersimpan rasa bahagia dan kebanggaan yang mendalam. Bagi Prilola, gelar tersebut bukan sekadar penghargaan simbolik, tetapi sebuah amanah untuk menjalankan “peran” sebagai mahasiswa yang peduli dan siap merangkul sesama untuk bersatu dalam menyuarakan “stop kekerasan” di lingkungan kampus.

    Sebagai mahasiswa PSPBI UPR, ia melihat peran ini sebagai jembatan untuk membangun kesadaran bersama, baik di kalangan mahasiswa maupun civitas akademika lainnya. “Ini adalah kesempatan untuk lebih berdedikasi dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, tertib, dan inklusif,” ujarnya.

    Melawan Kekerasan yang Nyata dan yang Tersembunyi

    Prilola menyoroti dua bentuk kekerasan yang menurutnya masih sering terjadi di lingkungan kampus: kekerasan psikis dan kekerasan seksual. Kekerasan psikis, seperti perundungan atau meremehkan orang lain, kerap dianggap hal biasa, padahal meninggalkan luka yang dalam. Sementara itu, kekerasan seksual seringkali terjadi secara tersembunyi, dibungkam oleh ketakutan dan stigma. Prilola menegaskan bahwa kekerasan bisa menimpa siapa saja, dari mahasiswa hingga tenaga pendidik.

    “Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak hanya butuh generasi yang pandai berbicara, tapi juga yang berani bertindak. Sudah saatnya rantai kekerasan di kampus kita hentikan bersama,” tegasnya.

    Program Aksi: Aksara dan AK Blusukan

    Sebagai Duta, Prilola membawa dua program unggulan yang sarat makna dan aksi nyata: Aksara (Anti Kekerasan Berbicara) dan AK Blusukan. Aksara memanfaatkan kekuatan media sosial sebagai ruang edukasi dan konseling melalui live Instagram, video, hingga podcast. Sementara itu, AK Blusukan hadir sebagai gerakan turun langsung ke lapangan, menyapa dan mengedukasi mahasiswa di berbagai sudut kampus agar semangat anti-kekerasan terus digaungkan.

    “Kekerasan bukan hanya tentang pelaku dan korban, tapi tentang langkah awal yang berani kita ambil untuk mengubahnya,” tutur Prilola penuh keyakinan.

    Pesan Prilola untuk Mahasiswa: Bicara Bukanlah Luka

    Untuk mereka yang mungkin masih diam dalam ketakutan, Prilola memberikan pesan yang menyentuh:
    “Bicara bukanlah sebuah luka. Bicaralah untuk merasa damai dengan apa yang telah terjadi. Memendam bukanlah solusi. Tidak apa-apa untuk mencari tempat yang bisa jadi sandaran. Ketahuilah, kekerasan bukanlah aib.”

    Dengan semangat muda dan suara yang lantang, Prilola membuktikan bahwa mahasiswa bisa menjadi agen perubahan. Dari kampus di tengah Kalimantan, suara Prilola menggema sebagai ajakan bersama:
    “Mari bersatu tangan untuk gema stop kekerasan. Dari mahasiswa, untuk perubahan bangsa.”